JAKARTA – DETEKSI24.COM – Indonesia sebagai penghasil CPO terbesar namun dengan tingkat penerimaan negara relatif kecil sehingga Lembaga Independen pembawa Suara Transparansi (INPEST) mendesak pemerintah mengubah total pola ekspor CPO dari bahan mentah menjadi produk hilir bernilai tinggi.
Langkah ini dinilai jauh lebih produktif dibanding program konsumtif jangka pendek untuk mengerek pertumbuhan ekonomi dan devisa negara.
“Selama ini kita bangga jadi eksportir CPO nomor 1, tapi 60% yang kita jual masih minyak mentah. Nilai tambahnya dinikmati Malaysia dan Eropa. Hilirisasi wajib jadi prioritas belanja negara, bukan sekadar bagi-bagi,” tegas Ketum DPN-INPEST Ir. Ganda Mora, SH., M.Si Kepada Wartawan, Selasa (2/6/2026).
“Selama ini kita bangga jadi eksportir CPO nomor 1, tapi 60% yang kita jual masih minyak mentah. Nilai tambahnya dinikmati Malaysia dan Eropa. Hilirisasi wajib jadi prioritas belanja negara, bukan sekadar bagi-bagi,” tegas Ketum DPN-INPEST
Berdasarkan data BPS dan GAPKI 2025, struktur ekspor CPO Indonesia masih didominasi produk hulu:
Jenis Produk CPO Volume Ekspor 2025 Harga Ton Nilai Devisa % Total
Seperti:
▪︎ CPO Mentah dengan Volume Ekspor Tahun 2025 dengan harga per 28,2 juta ton dengan harga pertonya sebesar devisa negara sebesar $700 menghasilkan devisa negara sebesar $19,7 M dengan total Ekspor 58%.
▪︎ RBDPO + Olein dengan Volume 11,4 juta ton harga per ton sebsar $780 dan menghasilkan devisa sebesar $8,9 M Persentase 26%.
▪︎ Produk Hilir dengan volume 6,1 juta ton harga perton $2.100 Devisa $12,8 M 16%.
Kajian LPEM FEB UI 2024 menyebut potential loss karena tidak hilirisasi mencapai Rp 300 triliun per tahun. “1 ton CPO mentah dijual $700. Kalau jadi kosmetik bisa $8.000, jadi biodiesel $1.100, jadi oleokimia $2.200. Kita kehilangan 3-10 kali lipat nilai,”.
Dampaknya ke neraca dagang: Meski volume CPO naik, devisa stagnan karena harga CPO fluktuatif. Saat harga jatuh ke $600/ton, petani langsung rugi.
Simulasi INPEST: Alihkan Rp365 T dari Konsumtif ke Hilirisasi
INPEST membandingkan dampak alokasi APBN Rp365 triliun/tahun untuk dua skenario:
1. Indikator Skenario A: Program Konsumtif
2. Skenario B: Hilirisasi CPO 3 Tahun.
Sumber Dana Alokasi APBN bila digunakan untuk Hilirisasi CPO Rp365 T/tahun x 3 = Rp1.095 T Output Tahun ke-4 15 juta ton oleokimia + B100, Tambahan Devisa +$28,4 M = Rp426 T/tahun, Penenrimaan Pajak Rp85 T dari PPh + PNBP, ketersediaan lapangan kerja 400 ribu, gaji Rp5-25 jt, permanen, Multipiler Ekonomi 2,8x. Aset produktif tetap ada Hemat 12 juta KL = $9,6 M/tahun.
Sedangkan bila digunakan untuk alokasi Konsumtif dengan anggaran Rp365 T/tahun x 3 = Rp1.095 T dengan Output tahun ke-4 Daya beli naik sesaat Tambahan Devisa/Tahun $0.
Habis dikonsumsi Penerimaan Pajak/Tahun Rp12 T dari PPN Lapangan Kerja 100 ribu, upah UMR, temporer Multiplier Ekonomi, 1,3x. Tahun ke-4 hilang, Impor Solar, Tetap 18 juta KL/tahun.
“Skenario konsumtif seperti isi ember bocor. Uang habis, rakyat tetap miskin. Skenario hilirisasi bangun pabrik. Pabriknya tetap ada, pajaknya ngalir terus,” sebut Ganda Mora kepada Wartawan Selasa (2/06/2026).
Pemerintah dapat mengubah Pola Ekspor dengan 3 Jurus Hilirisasi INPEST
INPEST memberi roadmap agar CPO tidak lagi dijual mentah:
1. Larangan Ekspor CPO Bertahap: Mulai 2028, CPO mentah kena bea keluar 30%. Tahun 2030 stop total. Malaysia sudah mulai, kita tertinggal.
2. Kawasan Industri Terpadu Sawit: Bangun 5 kawasan di Kalimantan & Sumatra. Isinya: refinery, biodiesel, oleokimia, pabrik kosmetik. Investor dapat tax holiday 20 tahun jika ekspor 70% produk hilir.
3. Wajib Serap Dalam Negeri: Program makan bergizi dan biodiesel B40 wajib pakai olein & FAME dari hilirisasi. Ini jamin pasar 12 juta ton/tahun.
Menurut Kementerian Perindustrian, 1 kawasan hilirisasi butuh investasi Rp45 T tapi hasilkan ekspor $4,5 M/tahun. BEP 6 tahun.
Dampak ke Petani dan APBN
Pihak Kondisi Ekspor Mentah Kondisi Hilirisasi Penuh Rp2.800/kg. Ada harga patokan industri Devisa Negara $62,4 M, stabil karena produk jadi Pendapatan APBN Pajak + dividen BUMN Rp127 T, Kemandirian Energi B100 cukup, stop impor $14 M
Sedangkan bila kita tetap dalam kondidi Ekspor dengan Harga TBS Petani Rp1.800/kg.
Ikut harga CPO dunia menghasilkan Devisa Negara $34 M, rentan jatuh, pemasukan APBN Pajak ekspor Rp42 T dengan Kemandirian Energi harus Impor solar 18 juta KL .Maka kita harus berhasil keluar dari middle income trap karena hilirisasi untuk CPO.
Perbandingan Penggunaan Rp1 Triliun untuk Apa?
INPEST memberi ilustrasi sederhana:
Rp1 T untuk konsumtif: Cukup kasih makan 1 juta orang selama 33 hari. Hari ke-34 lapar lagi. Devisa nol.
Rp1 T untuk pabrik oleokimia: Bangun pabrik kapasitas 50 ribu ton. Hasilkan ekspor $110 juta = Rp1,65 T per tahun. Gaji karyawan Rp80 M/tahun. Pajak Rp200 M/tahun. Jalan terus 20 tahun.
“Pilih mana: kenyang sebulan atau sejahtera 20 tahun? Negara tidak boleh berpikir jangka pendek,” tutup Ganda Mora.(Red)
Sumber: Ganda Mora(Ketua Umum Lembaga INPEST)






